Minggu, 01 April 2012

Mengintip Materi Bioteknologi dengan Menggunakan Model Pembelajaran Make A Match (Mencari Pasangan)

BAB I
PENDAHULUAN


Pendidikan merupakan kebutuhan pokok manusia  yang utama dan terutama di dalam kehidupan masa sekarang ini.  Seperti halnya di  negara-negara  barat, mereka memberi perhatian penting terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan dan  keterampilan. Bagi mereka, hal tersebut merupakan modal utama untuk bersaing dengan negara lain. Pendidikan di Indonesia belum melihat siswa sebagai individu yang unik sehingga perlu pembelajaran yang tidak seragam. Kegagalan pendidikan untuk memahami kebutuhan dan potensi unik setiap siswa itu mengakibatkan kualitas pendidikan yang tidak sesuai dengan harapan. Akibat lebih jauh, daya saing dan kualitas sumber daya manusia khususnya di Indonesia rendah di dunia internasional.
Salah satu indikasi terjadinya peningkatan kualitas pendidikan dapat dilihat dari adanya peningkatan prestasi akademik atau hasil belajar siswa secara keseluruhan. Sementara sekarang ini kualitas prestasi akademik atau hasil belajar siswa di Indonesia masih sangat memprihatinkan bila dibandingkan dengan negara lain di dunia. Menurut survei Political and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Hasil survei tahun 2007 World Competitiveness Year Book memaparkan daya saing pendidikan dari 55 negara yang disurvei, Indonesia berada pada urutan 53. Oleh karena itu, kualitas pendidikan di Indonesia sangat perlu ditingkatkan.
Untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, guru mempunyai peranan dan kedudukan kunci dalam keseluruhan proses pendidikan terutama dalam pendidikan formal, bahkan dalam keseluruhan pembangunan masyarakat pada umumnya. Moody dalam Samad (2006) mengemukakan pendapat berdasarkan pengalaman dan penelahaannya, bahwa sesungguhnya keberhasilan dari suatu masyarakat yang teratur sangat bergantung kapada guru. Surakhmad  dalam samad (2006) mengingatkan pentingnya peranan guru dalam pembangunan bahwa kekuatan dan mutu pendidikan suatu negara dapat dinilai dengan mempergunakan faktor guru sebagai salah satu indeks utama. Itulah salah satu sebab mengapa guru merupakan faktor yang mutlak dalam pembangunan. Namun, pembelajaran yang terpusat pada guru sampai saat ini masih menemukan beberapa kelemahan. Kelemahan tersebut dapat dilihat pada saat berlangsungnya proses pembelajaran di kelas, interaksi aktif  antara siswa dengan guru atau siswa dengan siswa jarang terjadi. Misalnya, siswa kurang terampil menjawab pertanyaan atau bertanya tentang konsep yang diajarkan serta siswa kurang bisa bekerja dalam kelompok diskusi dan memecahkan masalah yang diberikan.
Guru sebagai seorang pendidik dan sebagai orang yang memberi ilmu pengetahuan kepada anak didik harus betul-betul memahami kebijakan-kebijakan pendidikan. Dengan pemahaman itu, guru memiliki landasan-landasan berpijak dalam melaksanakan tugas di bidang pendidikan. Namun, perlu dipahami bahwa guru memang bukanlah satu-satunya sumber belajar, walaupun tugas, peranan, dan fungsinya dalam proses belajar mengajar sangat penting karena prestasi yang dicapai anak didik tidak hanya dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan guru terhadap materi pelajaran yang akan diajarkan, tetapi yang juga ikut menentukan adalah model pembelajaran yang digunakan. Pemilihan model pembelajaran yang tepat disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak dan konsep yang akan diajarkan agar siswa lebih mudah memahami pelajaran yang diajarkan dan tidak menimbulkan kebosanan. Pendidikan yang efektif adalah suatu pendidikan yang memungkinkan peserta didik untuk dapat belajar dengan mudah, menyenangkan dan dapat tercapai tujuan sesuai dengan yang diharapkan. Dengan demikian, pendidik (dosen, guru, instruktur,        dan trainer) dituntut untuk dapat meningkatkan keefektifan pembelajaran agar pembelajaran tersebut dapat berguna.
Menurut Suprijono (2009), model pembelajaran kooperatif dapat dibagi menjadi  12 model pembelajaran. Namun, model pembelajaran yang sesuai dengan permasalahan di atas adalah model pembelaharan kooperatif make a match (mencari pasangan). Model pembelajaran make a match ini  dapat mengatasi permasalahan-permasalahan yang terjadi di dalam kelas.
Model pembelajaran kooperatif make a match (mencari pasangan) memiliki sejumlah strategi pembelajaran yang efektif, digunakan untuk individu tertentu sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Penggunaan media berupa kartu indeks pada model pembelajaran make a match (mencari pasangan)  diharapkan mampu  membangkitkan motivasi dan merangsang  siswa dalam proses belajar mengajar,  membantu keefektifan proses pembelajaran,  menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran, memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat  informasi  yang diberikan, menciptakan pembelajaran yang  lebih menarik, membawa kesegaran dan variasi baru bagi pengalaman belajar siswa sehingga siswa tidak bosan dan tidak bersikap pasif.
Adapun teknik dari model pembelajaran make a match atau mencari pasangan dikembangkan oleh Lorna Curran (1994). Salah satu keunggulan tehnik ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. Langkah-langkah penerapan metode make a match sebagai berikut:
  1. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban.
  2. Setiap siswa mendapatkan sebuah kartu yang bertuliskan soal/jawaban.
  3. Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang.
  4. Setiap siswa mencari pasangan kartu yang cocok dengan kartunya. Misalnya: pemegang kartu yang bertuliskan nama tumbuhan dalam bahasa Indonesia akan berpasangan dengan nama tumbuhan dalam bahasa latin (ilmiah).
  5. Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin.
  6. Jika siswa tidak dapat mencocokkan kartunya dengan kartu temannya (tidak dapat menemukan kartu soal atau kartu jawaban) akan mendapatkan hukuman, yang telah disepakati bersama.
  7. Setelah satu babak, kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya, demikian seterusnya.
  8. Siswa juga bisa bergabung dengan 2 atau 3 siswa lainnya yang memegang kartu yang cocok.
  9. Guru bersama-sama dengan siswa membuat kesimpulan terhadap materi pelajaran.
Kegiatan yang dilakukan guru ini merupakan upaya guru untuk menarik perhatian sehingga pada akhirnya dapat menciptakan keaktifan dan motivasi siswa dalam diskusi. Hal ini sejalan dengan pendapat Hamalik (1994:116) dalam Ramadhan (2009), “Motivasi yang kuat erat hubungannya dengan peningkatan keaktifan siswa yang dapat dilakukan dengan strategi pembelajaran tertentu, dan motivasi belajar dapat ditujukan ke arah kegiatan-kegiatan kreatif. Apabila motivasi yang dimiliki oleh siswa diberi berbagai tantangan, akan tumbuh kegiatan kreatif.” Selanjutnya, penerapan model pembelajaran make a match dapat membangkitkan keingintahuan dan kerja sama di antara siswa serta mampu menciptakan kondisi yang menyenangkan. Hal ini sesuai dengan tuntutan dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) bahwa pelaksanaan proses pembelajaran mengikuti standar kompetensi, yaitu: berpusat pada siswa, mengembangkan keingintahunan dan imajinasi, memiliki semangat mandiri, bekerja sama, dan kompetensi, menciptakan kondisi yang menyenangkan, mengembangkan beragam kemampuan, pengalaman belajar, karakteristik mata pelajaran.






BAB II
MATERI BIOTEKNOLOGI

Bioteknologi banyak membantu manusia dalam menjalankan kehidupannya, terutama untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sebenarnya, bioteknologi telah dipraktekkan orang ribuan tahun yang lalu dengan cara-cara yang masih sangat sederhana. Namun, sejalan dengan perkembangan jaman, bioteknologi mengalami kemajuan yang cukup pesat. Bioteknologi pada beberapa tahun terakhir telah memacu perubahan berbagai bidang, seperti bidang pertanian, peternakan, dan kedokteran.

1.      Pengertian Bioteknologi
Bioteknologi berasal dari istilah latin yaitu bio (hidup), teknos (teknologi = penerapan), dan logos (ilmu), yang secara harfiah berarti ilmu yang menerapkan prinsip-prinsip biologi. Bioteknologi secara lengkap yaitu pemanfaatan prinsip-prinsip dan kerekayasaan terhadap organisme, sistem, atau proses biologis untuk menghasilkan atau meningkatkan potensi organisme maupun menghasilkan produk dan jasa bagi kepentingan hidup manusia.
Bioteknologi secara sederhana sudah dikenal oleh manusia sejak ribuan tahun yang lalu. Sebagai contoh, di bidang teknologi pangan adalah pembuatan bir, roti, maupun keju yang sudah dikenal sejak abad ke-19, pemuliaan tanaman untuk menghasilkan varietas-varietas baru di bidang pertanian, serta pemuliaan dan reproduksi hewan. Di bidang medis, penerapan bioteknologi di masa lalu dibuktikan antara lain dengan penemuan vaksin, antibiotik, dan insulin, walaupun masih dalam jumlah yang terbatas akibat proses fermentasi yang tidak sempurna. Perubahan signifikan terjadi setelah penemuan bioreaktor oleh Louis Pasteur. Dengan alat ini, produksi antibiotik maupun vaksin dapat dilakukan secara massal.
Pada masa ini, bioteknologi berkembang sangat pesat, terutama di Negara-negara maju. Kemajuan ini ditandai dengan ditemukannya berbagai macam teknologi seperti rekayasa genetika, kultur jaringan, rekombinan DNA, pengembangbiakan sel induk, kloning, dan lain-lain. Teknologi ini memungkinkan kita untuk memperoleh penyembuhan penyakit-penyakit genetik maupun kronis yang belum dapat disembuhkan, seperti kanker ataupun AIDS. Penelitian di bidang pengembangan sel induk juga memungkinkan para penderita stroke ataupun penyakit lain yang mengakibatkan kehilangan atau kerusakan pada jaringan tubuh dapat sembuh seperti sediakala.
Di bidang pangan, dengan menggunakan teknologi rekayasa genetika, kultur jaringan dan rekombinan DNA, dapat dihasilkan tanaman dengan sifat dan produk unggul karena mengandung zat gizi yang lebih jika dibandingkan tanaman biasa, serta juga lebih tahan terhadap hama maupun tekanan lingkungan. Penerapan bioteknologi di masa ini juga dapat dijumpai pada pelestarian lingkungan hidup dari polusi. Sebagai contoh, pada penguraian minyak bumi yang tertumpah ke laut oleh bakteri, dan penguraian zat-zat yang bersifat toksik (racun) di sungai atau laut dengan menggunakan bakteri jenis baru.
Kemajuan di bidang bioteknologi tak lepas dari berbagai kontroversi yang melingkupi perkembangan teknologinya. Sebagai contoh, teknologi kloning dan rekayasa genetika terhadap tanaman pangan mendapat kecaman dari bermacam-macam golongan.
Jadi, pengertian Bioteknologi dapat diartikan sebagai penerapan prinsip ilmu dan rekayasa dalam mengolah bahan organik dan anorganik dengan memanfaatkan makhluk hidup untuk membuat suatu produk dan jasa yang bermanfaat bagi manusia. Makhluk hidup atau zat hidup yang biasa dimanfaatkan dalam bioteknologi dapat berupa hewan, tumbuhan, mikroba (misalnya bakteri dan jamur), dan enzim.
2.      Ilmu-Ilmu yang Digunakan dalam Bioteknologi
Bioteknologi adalah cabang ilmu yang mempelajari pemanfaatan makhluk hidup (bakteri, fungi, virus, dan lain-lain) maupun produk dari makhluk hidup (enzim, alkohol) dalam proses produksi untuk menghasilkan barang dan jasa. Dewasa ini, perkembangan bioteknologi tidak hanya didasari pada biologi semata, tetapi juga pada ilmu-ilmu terapan dan murni lain, seperti biokimia, biologi molekular, mikrobiologi, dan genetika. Dengan kata lain, bioteknologi adalah ilmu terapan yang menggabungkan berbagai cabang ilmu dalam proses produksi barang dan jasa.
3.      Perkembangan Bioteknologi
Bioteknologi dibedakan atas bioteknologi tradisional dan bioteknologi modern.
a.      Bioteknologi konvensional
            Bioteknologi konvensional merupakan bioteknologi yang memanfaatkan mikroorganisme untuk memproduksi alkohol, asam asetat, gula, atau bahan makanan, seperti tempe, tape, oncom, dan kecap. Mikroorganisme dapat mengubah bahan pangan. Proses yang dibantu mikroorganisme, misalnya dengan fermentasi, hasilnya antara lain tempe, tape, kecap, dan sebagainya termasuk keju dan yoghurt. Ciri khas yang tampak pada bioteknologi konvensional, yaitu
adanya penggunaan makhluk hidup secara langsung. Adapun produk dari bioteknologi konvensional yaitu:
1). Yoghurt
Untuk membuat yoghurt, susu dipasteurisasi terlebih dahulu, selanjutnya sebagian besar lemak dibuang. Mikroorganisme yang berperan dalam pembuatan yoghurt, yaitu Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus
thermophillus. Kedua bakteri tersebut ditambahkan pada susu dengan jumlah yang seimbang, selanjutnya disimpan selama ± 5 jam pada temperature 45 0C. Selama penyimpanan tersebut pH akan turun menjadi 4,0 sebagai akibat dari kegiatan bakteri asam laktat. Selanjutnya susu didinginkan dan dapat diberi cita rasa.


2). Keju
Dalam pembuatan keju digunakan bakteri asam laktat, yaitu Lactobacillus dan Streptococcus. Bakteri tersebut berfungsi memfermentasikan laktosa dalam susu menjadi asam laktat. Proses pembuatan keju diawali dengan pemanasan susu dengan suhu 90 0C atau dipasteurisasi, kemudian didinginkan sampai 30 0C.
            Selanjutnya bakteri asam laktat dicampurkan. Akibat dari kegiatan bakteri tersebut, pH menurun dan susu terpisah menjadi cairan whey dan dadih padat, kemudian ditambahkan enzim renin dari lambung sapi muda untuk mengumpulkan dadih. Enzim renin  dewasa ini telah digantikan dengan enzim buatan, yaitu klimosin. Dadih yang terbentuk selanjutnya dipanaskan pada temperatur 32 0C – 420 0C dan ditambah garam, kemudian ditekan untuk
membuang air dan disimpan agar matang. Adapun whey yang
terbentuk diperas lalu digunakan untuk makanan sapi.
3). Mentega
Pembuatan mentega menggunakan mikroorganisme Streptococcus lactis dan Lectonostoceremoris. Bakteri-bakteri tersebut membentuk proses pengasaman. Selanjutnya, susu diberi cita rasa tertentu dan lemak mentega dipisahkan. Kemudian lemak mentega diaduk untuk menghasilkan mentega yang siap dimakan.




4). Kecap
Dalam pembuatan kecap, jamur Aspergillus oryzae dibiakkan pada kulit gandum terlebih dahulu. Jamur Aspergillus oryzae bersama-sama dengan bakteri asam laktat yang tumbuh pada kedelai yang telah dimasak  menghancurkan campuran gandum. Setelah proses fermentasi karbohidrat yang berlangsung cukup lama akhirnya akan dihasilkan produk kecap.
5). Tempe
Tempe kadang-kadang dianggap sebagai bahan makanan masyarakat golongan menengah ke bawah, sehingga masyarakat merasa gengsi memasukkan tempe sebagai salah satu menu makanannya. Akan tetapi, setelah diketahui manfaatnya bagi kesehatan, tempe mulai banyak dicari dan digemari masyarakat dalam maupun luar negeri.
Jenis tempe sebenarnya sangat beragam, bergantung pada bahan dasarnya, namun yang paling luas penyebarannya adalah tempe kedelai. Tempe mempunyai nilai gizi yang baik. Di samping itu, tempe mempunyai beberapa khasiat seperti dapat mencegah dan mengendalikan diare, mempercepat proses penyembuhan duodenitis, memperlancar pencernaan, dapat menurunkan kadar kolesterol, dapat mengurangi toksisitas, meningkatkan vitalitas, mencegah anemia, menghambat ketuaan, serta mampu menghambat resiko jantung koroner, penyakit gula, dan kanker.
Untuk membuat tempe, selain diperlukan bahan dasar kedelai juga diperlukan ragi. Ragi merupakan kumpulan spora mikroorganisme, dalam hal ini kapang. Dalam proses pembuatan tempe paling sedikit diperlukan empat jenis kapang dari genus Rhizopus, yaitu Rhyzopus oligosporus, Rhyzopus stolonifer, Rhyzopus arrhizus, dan Rhyzopus oryzae. Miselium dari kapang tersebut akan
mengikat keping-keping biji kedelai dan memfermentasikannya menjadi produk tempe. Proses fermentasi tersebut menyebabkan terjadinya perubahan kimia pada protein, lemak, dan karbohidrat. Perubahan tersebut meningkatkan kadar protein tempe sampai sembilan kali lipat.
6). Tapai
Tapai dibuat dari bahan dasar beras ketan dan ketela pohon dengan menggunakan sel-sel ragi. Ragi menghasilkan enzim yang dapat mengubah zat tepung menjadi produk yang berupa gula dan alkohol.

b.      Bioteknologi Modern
Bioteknologi modern Merupakan praktik bioteknologi yang ditandai dengan teknik rekayasa genetika. Penggunaan bioteknologi modern semakin berkembang seiring dengan meningkatnya nilai manfaat dan nilai ekonomi yang dihasilkan. Bioteknologi modern diawali dengan sebuah temuan ilmiah yang diperoleh pada tahun 1973. Pada saat itu, sebuah tim saintis telah berhasil memindahkan satu gen dari mamalia kedalam bakteri. Dalam eksperimen tersebut, bakteri diperlukan sebagai pembawa intruksi gen “asing” sehingga diharapkan semua keturunan bakteri yang menerima gen “asing” dapat mengekspresikan sifat-sifat mamalia. Proses pembiakan gen asing didalam sel bakteri atau sel organisme lainnya disebut klon gen.
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, para ahli teknlogi mulai mengembangkan bioteknologi dengan memanfaatkan prinsip ilmiah melalui penelitian dan berupaya menghasilkan produk secara efektif dan efisien. Bioteknologi tidak hanya di manfaatkan dalam industri makanan, tetapi telah mencakup berbagai bidang seperti rekayasa genetika, penanganan polusi, penciptaan sumber energi dan lainnya. Dengan adanya penelitian serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka bioteknologi makin besar manfaatnya untuk masa yang akan datang. Berikut beberapa penerapan bioteknologi yang akan di bahas:
1.      Bioteknologi dengan Menggunakan Rekayasa Genetika
Rekayasa Genetika adalah suatu teknik bioteknologi yang digunakan untuk mentransfergen dari suatu organisme ke organisme lain. Pada awalnya, metode perpindahan gen-gen tersebut hanya dapat dilakukan antarorganisme satu jenis. Namun, pada perkembangan berikutnya perpindahan gen-gen dapat dilakukan terhadap berbagai organisme berlainan jenis. Teknik demikian dikenal sebagai teknologi DNA rekombinan.
Kloning gen merupakan batu permata dari suatu rekayasa genetika. Teknik rekayasa genetika memerlukan gen yang mengandung sifat utama dari gen yang diisolasi (disintesis) dilaboratorium. Gen tersebut kemudian dimasukkan kedalam makhluk hidup, meskipun hasil penciptaannya terkadang merupakan campuran sifat yang tidak pernah terjadi secara ilmiah. Sebelum membahas tentang bioteknologi modern dan implementasinya, terlebih dahulu perlu dipahami tentang pengertian dari rekayasa genetika dan dua komponen utama yang telibat didalmnya, yaitu plasmid dan enzim. Kedua komponen tersebut dapat menentukan keberhasilan suatu kegiatan rekayasa genetika.
Enzim dalam rekayasa genetika adalah enzim pemutus (restriksi endonuklease) dan enzim perekat (ligase). Enzim restriksi endonuklease merupakan enzim khusus dari bakteri yang berguna sebagai alat pertahanan tubuh. Misalnya, untuk melawan DNA asing yang menyusup masuk seperti yang berasal dari virus. Dalam dunia rekayasa genetika, enzim tersebut bertindak sebagai gunting biologi yang berfungsi untuk memotong rantai DNA pada tempat-tempat khusus. Enzim restriksi endonuklease memiliki dua keutamaan. Pertama, memiliki fungsi kerja spesifik. Dalam hal ini, enzim mampu mengenal dan memotong urutan nukleotida tertentu pada DNA. Keutamaan kerja enzim tersebut telah dimanfaatkan oleh para ahli medis untuk mendiagnosis penyakit keturunan. Misalnya, penyakit anemia bulan sabit (sickle cell anemia). Kedua, mampu menghasilkan potongan-potongan runcing ketika memotong rantai ganda DNA. Fragmen-fragmen yang dihasilkannya adalah berupa ujung runcing (ujung lengket) yang terdiri atas untaian tunggal.
Dalam rekayasa genetika, organisme yang memperoleh suatu gen asing disebut organisme transgenik. Organisme transgenik dapat berupa mikroba (bakteri) transgenik, tanaman transgenik dan hewan transgenik. Bakteri merupakan mikroba yang paling sering digunakan dalam kegiatan rekayasa genetika.
Hal tersebut disebabkan bakteri memiliki laju pertumbuhan yang sangat cepat. Dalam waktu 24 jam, satu sel E.coli mampu membuat miliaran tiruan dirinya. Artinya, suatu gen yang disisipkan ke dalam bakteri dapat diproduksi dalam jumlah tidak terbatas dalam waktu relatif singkat. Itulah sebabnya bakteri disebut juga pabrik biologi.
Rekayasa genetika merupakan suatu cara memanipulasikan gen untuk menghasilkan mahluk hidup baru dengan sifat yang diinginkan. Rekayasa genetika disebut juga pencangkokan gen atau rekombinasi DNA.
Dalam rekayasa genetika, digunakan DNA untuk menggabungkan sifat mahluk hidup, sebab DNA dari setiap mahluk hidup mempunyai struktur yang sama, sehingga dapat direkomendasikan. Selanjutnya, DNA tersebut akan mengatur sifat mahluk hidup secara turun temurun. Untuk mengubah DNA sel dapat dilakukan dengan beberapa cara, misalnya melalui transplantasi inti, fusi sel, teknologi plasmid dan rekomendasi DNA.
a)      Transplantasi Inti
Transplantasi inti adalah pemindahan inti dari suatu sel ke sel yang lain agar didapatkan individu baru dengan sifat yang sesuai dengan inti yang di terimanya. Sebagai contoh, tansplantasi inti pernah di lakukan pada sel katak. Inti sel yang dipindahkan adalah inti dari sel usus katak yang bersifat diploid, inti sel tersebut di masukan ke dalam ovum tanpa inti sehingga terbentuk ovum dengan inti diploid. Setelah diberi inti baru, ovum membelah secara mitosis berkali – kali sehingga terbentuklah morula yang berkembang menjadi blastula dan akhirnya terbentuk ovum berinti diploid dalam jumlah yang banyak. Masing-masing ovum akan berkembang menjadi individu baru dengan sifat dan jenis kelamin yang sama.
b). Fusi Sel
Fusi sel adalah peleburan 2 sel baik dari spesies yang sama maupun berbeda agar terbentuk sel bastar atau hibridoma. Fusi sel di awali oleh pelebaran membran dua sel lalu diikuti oleh peleburan sitoplasma (plasmogami) dan peleburan inti sel (kariogami). Manfaat fusi sel antara lain untuk pemetaan kromosom, lalu membuat antibody monoclonal dan membentuk spesies baru, di dalam fusi sel diperlukan adanya:
1. Sel sumber gen (sumber sifat ideal).
2. Sel wadah (sel yang mampu membelah cepat).
3. Fusigen (zat-zat yang mempercepat fusi sel).
c). Teknologi Plasmid
Plasmid adalah lingkaran DNA kecil yang terdapat dalam sel bakteri atau ragi di luar kromosomnya. Sifat-sifat plasmid antara lain :
1. Merupakan molekul DNA yang mengandung DNA tertentu.
2. Dapat berpindah ke sel bakteri lain.
3. Sifat plasmid pada keturunan bakteri sama dengan pasmid induk.
4. Plasmid digunakan sebagai vector atau pemindah gen ke dalam sel target.
Plasmid adalah molekul DNA berantai rangkap dan berbentuk cincin. Plasmid ditemukan di dalam sel bakteri dan dapat berbiak secara bebas, lepas dari kromosom induk. Dalam rekayasa genetika, plasmid berperan sebagai vektor (kendaraan) yang digunakan untuk mentransfer dan memperbanyak gen asing.
d). Rekombinasi DNA
Rekombinasi DNA adalah proses penggabungan DNA dari sumber yang berbeda. Tujuannya adalah untuk menyambungkan gen yang ada di dalamnya. Oleh karena itu, rekombinasi DNA disebut juga rekombinasi gen.
Rekombinasi DNA dapat dilakukan karena mempunyai alasan sebagai berikut:
1. Struktur DNA setiap mahluk hidup sama.
2. DNA dapat di sambungkan.
            Teknologi DNA rekombinan merupakan suatu teknik bioteknologi berupa penggabungan gen-gen (DNA) dari berbagai sumber. Teknik ini muncul setelah para saintis mengetahui kemampuan enzim pemutus yang dihasilkan oleh bakteri. Keberhasilan proses rekayasa genetika tidak terlepas dari adanya temuan James Watson dan Francis Crick, tahun 1953. Pada saat itu, kedua saintis tersebut berhasil menemukan struktur rantai ganda asam deoksiribosa nukleat (DNA). DNA merupakan kode-kode genetika yang mengatur suatu kegiatan sel seperti tumbuh, bereproduksi, dan fungsi hidup lainnya. Sepenggal DNA terdiri atas gen-gen yang memilki urutan kimiawi tertentu.

2.      Bioteknologi Bidang Kedokteran
Bioteknologi mempunyai peranan penting  dalam bidang kedokteran, misalnya pembuatan antibodi monoklonal, vaksin, antibiotika dan hormon sebagai berikut:
a)      Antibodi Monoklonal
Antibodi monoklonal adalah antibodi yang diperoleh dari suatu sumber tunggal. Adapun manfaat antibody monoclonal yaitu:
1)      Untuk mendeteksi kandungan hormon kronik gonadotropin dalam urine wanita hamil.
2)      Mengikat racun dan menonaktifkannya.
3)      Mencegah penolakan tubuh terhadap hasil transplantasi jaringan lain.


 









b)      Pembuatan Vaksin
Vaksin digunakan untuk mencegah serangan tubuh yang berasal dari mikro organisme. Vaksin di dapat dari virus dan bakteri yang telah di lemahkan atau racun yang di ambil dari mikroorganisme tesebut.
c)      Pembuatan Antibiotika
Antibiotika adalah suatu zat yang dihasilkan oleh organisme tertentu dan berfungsi untuk menghambat pertumbuhan organisme lain yang ada di sekitarnya. Antibiotika dapat diperoleh dari jamur atau bakteri yang diproses dengan cara tertentu.
d)     Pembuatan Hormon
Dengan rekayasa DNA, telah digunakan mikroorganisme untuk memproduksi hormon. Hormon-hormon yang telah diproduksi misalnya insulin, hormon pertumbuhan, kortison dan tertosteron.
3.      Dampak Negatif Bioteknologi dan Penanggulangannya
a)      Dampak Negatif Bioteknologi terhadap Lingkungan
Selain membawa keuntungan bagi manusia, aplikasi bioteknologi ternyata menimbulkan akibat buruk oleh penerapan teknologi tersebut.  Contohnya, pembuatan tempe atau kecap dalam skala besar dapat mengakibatkan pencemaran lingkungan. Air limbah dan kulit kedelai dari proses pembuatan tempe, apabila dibiarkan tergenang dalam waktu cukup lama, limbah tersebut mengubah lingkungan menjadi tidak sehat. Jika air limbah itu dibiarkan mengalir ke dalam kolam - kolam ikan atau ke lahan - lahan persawahan, kehidupan ikan atau tanaman akan terganggu, bahkan bisa mati. Selain meracuni organisme yang hidup di dalam air, limbah ini juga menimbulkan bau yang tidak enak. Untuk itu maka perlu ditangani secara baik agar tidak mencemari lingkungan.
Saat ini dengan pesatnya kemajuan bioteknologi terutama dalam rekayasa genetika, manusia dapat membuat bakteri yang dapat menguraikan bahan-bahan limbah berbahaya dalam tanah (bioremedasi). Namun karena organisme baru tersebut tidak tercipta dari proses evolusi ataupun seleksi alam, perlu diperhatikan adanya kemungkinan interaksi dengan ekosistem. Kemungkinan terjadinya efek ekologis sangatlah sulit dievaluasi mengingat bahwa pada bakteri tanah sering terjadi pertukaran material genetik (bahkan antar spesies).
Penggunaan bioteknologi pada bidang pertanian menjadikan produk hasil pertanian merupakan tanaman unggulan. Peran bioteknologi dalam menghasilkan tanaman unggulan ini melalui rekayasa dari genetik tumbuhan. Hal ini akan berakibat pada penurunan biodiversitas akibat penurunan tingkat keberagaman dari tumbuhan, karena melalui bioteknologi tanaman yang direkayasa akan memiliki sifat genetik yang kurang lebih sama. Adanya kemungkinan tanaman transgenik yang tahan hama menyerang spesies lainnya. Pada umumnya tanaman transgenik akan membawa gen buatannya dalam serbuk sari. Terdapat kemungkinan adanya transfer genetik dari tanaman transgenik ke tanaman aslinya. Hal seperti ini sebenarnya tidaklah menimbulkan masalah selama tujuan penyisipin gen tersebut pada tanaman transgenik terpenuhi pada tanaman.
b)      Dampak Sosial
Produk minuman beralkohol seperti bir, anggur, wiski, dan air tape terkadang juga menimbulkan dampak yang buruk bagi lingkungan. Dampak tersebut berupa kebiasaan meminum minuman beralkohol tersebut sehingga mabuk. Minuman beralkohol bila diminum dalam jumlah banyak bersifat memabukkan dan menyebabkan kantuk karena menekan aktivitas otak. Alkohol juga bersifat candu. Orang yang sering minum alkohol dapat menjadi ketagihan dan sulit untuk meninggalkan kebiasaan minum minuman beralkohol. Walaupun tidak beracun, alkohol dapat menimbulkan angka kematian yang tinggi, misalnya pengemudi kendaraan yang dalam keadaan mabuk menimbulkan kecelakaan lalu lintas. Alkohol yang terdapat dalam minuman beralkohol kadarnya bermacam - macam. Secara alami alkohol hasil fermentasi kadarnya 12 - 15 % karena pada larutan yang berkadar sebesar ini ragi akan mati. Tetapi melalui proses penyulingan dapat diperoleh alkohol sampai 95,5%.
c)      Usaha Mengatasi Dampak Penerapan Bioteknologi
Penanganan limbah tempe, yang secara sederhana dapat dilakukan dengan cara menampung dan menyaring limbah/air limbah tempe ke dalam sebuah bak. Kemudian bak ditutup agar tidak menimbulkan bau. Kemudian, mengalirkan air limbah yang sudah disaring ke bak pengumpul. Pada bak ini, air limbah yang berasal dari beberapa kali proses pembuatan tempe akan bercampur secara merata dan seragam. Terakhir, mengalirkan air limbah yang berasal dari bak penampung, ke bak kedap udara dan selanjutnya diendapkan selama 20 hari. Di dalam bak kedap udara, benda - benda (polutan) berat yang dapat membahayakan lingkungan diuraikan oleh mikroorganisme secara alami sehingga menjadi tidak berbahaya.
Untuk minuman beralkohol dikenai cukai atau pajak yang tinggi sehingga harganya mahal. Akibatnya, tidak sembarang orang dapat mengonsumsi. Selain itu, secara rutin diadakan penyitaan dan pemusnahan minum-minuman keras terutama yang berkadar alkohol tinggi. Di beberapa negara untuk mengurangi kecelakaan, pengemudi mobil di tes kadar alkohol dalam darahnya.
















BAB III
KAITAN ANTARA BIOTEKNOLOGI DENGAN MODEL PEMBELAJARAN MAKE A MATCH

Pembelajaran terpusat pada guru sampai saat ini masih menemukan beberapa kelemahan. Kelemahan tersebut dapat dilihat pada saat berlangsungnya proses pembelajaran di kelas, interaksi aktif antara siswa dengan guru atau siswa dengan siswa jarang terjadi. Siswa kurang terampil menjawab pertanyaan atau bertanya tentang konsep yang diajarkan. Siswa kurang bisa bekerja dalam kelompok diskusi dan pemecahan masalah yang diberikan. Mereka cenderung belajar sendiri-sendiri. Pengetahuan yang didapat bukan dibangun sendiri secara bertahap oleh siswa atas dasar pemahaman sendiri. Karena siswa jarang menemukan jawaban atas permasalahan atau konsep yang dipelajari.
Salah satu tuntutan pengajaran di Sekolah Berstandar Internasional (SBI) dan Sekolah Standar Nasional (SSN), adalah kompetensi guru. Banyak guru yang belum memiliki pengetahuan yang cukup untuk mentransferkan ilmu kepada muridnya. Salah satu materi yang sulit dikalangan guru Biologi di SMP dan guru Biologi di SMA adalah Bioteknologi, mengingat bidang ini sangat kompleks menyangkut berbagai disiplin ilmu. Sedangkan aplikasi bioteknologi pada praktikum di sekolah dengan memanfaatkan potensi sekitar masih memerlukan bimbingan dan pembenahan terhadap percobaan yang dilakukan di laboratorium. Oleh karena itu, model pembelajaran kooperatif make a match dalam hal ini sangat diperlukan oleh guru agar siswa dapat tertarik dan merasa nyaman ketika belajar tentang bioteknologi.
Keberhasilan guru dalam mengajar bukan tergantung pada luasnya materi yang disampaikan tetapi makna atau konsep yang tepat yang terkandung dalam materi tersebut. Dalam kegiatan pembelajaran, seringkali siswa sulit menangkap materi yang disampaikan oleh guru, misalnya saja dalam konsep bioteknologi modern. Siswa akan merasa kesulitan untuk membayangkan bagaimana rekayasa genetika, bagaimana teknik kultur jaringan itu berlangsung, bagaimana proses pembentukan bayi tabung. Bisa saja siswa beranggapan bahwa yang dinamakan bayi tabung itu adalah bayi yang dibuat dalam tabung tanpa ada perlakuan lebih lanjut. Padahal bayi tabung itu akan dimasukkan lagi ke dalam rahim ibu dalam proses perkembangannya sampai siap untuk dilahirkan. Belum lagi konsep kultur jaringan. Siswa hanya sekedar menghafal pengertiannya saja tanpa mengetahui bagian mana saja yang dapat dikultur, bagaimana prosesnya, dan sebagainya. Itu hanya sebagian contoh kecil saja. Agar semua konsep dalam materi itu terserap semua oleh siswa maka disini peran guru dalam menggunakan model pembelajaran sangat penting untuk memotivasi siswa agar mau serta mampu menyerap materi yang diajarkan.
Model pembelajaran kooperatif bukanlah hal yang sama sekali baru bagi guru. Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok-kelompok. Setiap siswa yang ada dalam kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda-beda (tinggi, sedang dan rendah) dan jika memungkinkan anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan jender. Model pembelajaran kooperatif mengutamakan kerja sama dalam menyelesaikan permasalahan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Model pembelajaran kooperatif memang sangat menarik untuk dipraktekkan. Selain memiliki nilai falsafah homo homini socius, model ini juga mengalihkan proses pembelajaran sistem teacher center menjadi student center. Salah satu ragam metode dengan model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran make a match.






Daftar Pustaka

Aryulina, Diah, ddk. 2002. Biologi 3. Jakarta: Esis.

Djohar. 2003. Jurnal Pendidikan Mengenai Model Pembelajaran Make A Match. http://www.data.tp.ac.id/dokumen/jurnal+pendidikan+mengenai+model+pembelajaran+make+a+match. Diakses tanggal 18 September 2011.

Ganawati, Dewi. 2011. Bioteknologi. http: //www.crayonpedia.org/mw/Bioteknologi 9.1 Dewi Ganawati. Diakses tanggal 20 September 2011.

Ganis. 2010. Masalah pendidikan di indonesia. http: //ganis.student.unm.ac.id/2010/01/26/mahalnya-biaya-sekulah-di-masa-sekarang/. Diakses tanggal 22 September 2011.
Herdian. 2009. Model Pembelajaran Make-A Match. http://herdy07.wordpress.com/2009/04/29/model-pembelajaran-make-a-match/. Diakses tanggal 18 September 2011.

Nur, Arif. 2010.  Bioteknologi Modern. http: //arifworldscience.blogspot.com/2010/ 01/bioteknologi-modern.html. Diakses tanggal 18 September 2011.

Ramadhan. 2009. Efek Negatif  Bioteknologi. http://jurnalramadhan.blogspot.com/2009/10/efek-negatif-bioteknologi-pada.html. Diakses tanggal 20 September 2011.

Ramadhan, Tarmizi. 2008. Model Pembelajaran Kooperatif Make A Match. http://tarmizi.wordpress.com/2008/12/03/pembelajaran-kooperatif-make-a-match/.  Diakses tanggal 18 September 2011.

Riska Arianti. 2010. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif dengan Metode Make A Match Pada Mata Pelajaran Matematika Siswa Kelas Vii Smpn 1 Porong. http://digilib.umm.ac.id/files/disk1/375/jiptummpp-gdl-s1-2010-riskaarian-18744-Pendahul-N.pdf. Diakses tanggal 18 September 2011.

Riyanto. 2009. Upaya Peningkatan Motivasi dan Hasil Belajar PKn Melalui Model Pembelajaran Make A Match Bagi Siswa Kelas VIIc SMP Negeri 1 Ngawen Kabupaten Blora Tahun Pelajaran 2008/2009. http: //jurnal.pdii.lipi.go. id/admin /jurnal/22095663.pdf. Diakses tanggal 18 September 2011.

Samad, Sulaiman., dkk, 2006, Profesi Keguruan, Makassar: FIP UNM.
Suprijono, Agus., 2009, Cooperative Learning, Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Susilowati, Endang, dkk.  Pengajaran Bioteknologi Di Smp/Sma Berstandar Internasional Dan Nasional Se-Kota Kendari. http://www.unhalu.ac.id/new/wall.php?uh=detil_ki&id=297. Diakses tanggal 18 September 2011.

Talib, Sulastri. 2008. Studi Tentang Model Pembelajaran Make A Match.  http://e-journal.ung.ac.id/?View=entry&EntryID=164. Diakses tanggal 23 September 2011.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar